My Fam

My Fam
Berdiri dari kiri ke kanan : H. Ery RL, Binar ML, Byan IL, Brilian RL, Barami ML, Biyadika RL. Duduk : Hj. Yulia Widiasari Rahmah:

GELAP tak pernah ada, bila ada SINAR !!!

GELAP tak pernah ada, bila ada SINAR !!!
"Yaa Rabb.....Luruskan jarum hati kami untuk tunaikan tugas hidup beribadah di jalan-Mu..."

2 November 2016

Musyawarah Cabang Persatuan Islam VII 2016


Anggota Persatuan Islam Cabang Banjaran Jama'ah Ciapus di arena MUSYCAB VII Persatuan Islam Banjaran jl. Pajagalan Banjaran

PELANTIKAN FKUB KABUPATEN BANDUNG



Pelantikan Pengurus FKUB Kabupaten Bandung periode 2016 - 2021 oleh bapak Bupati Bandung di Bale Sawala PEMDA Kabupaten Bandung

4 Desember 2014

KONTEMPLASI DIRI



Oleh : Eri Ridwan Latief

Ketika kita berbicara Politik seolah-olah kita masuk pada satu pilihan yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman, padahal secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri. Langkah untuk menyerap wawasan yang berkualitas, tentunya tidak dipersepsi serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui bahwa :“yang aku tahu adalah  aku semakin tidak tahu apa-apa.”  
Samuel P Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and Remaking of World Order mengatakan : Di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang membimbing kita bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang dilihat dan bagaimana menilai manfaat serta kebaikannya yang harus mampu; mengatur dan menggeneralisasikan realitas; memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena; melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang; memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting, dan menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan kita.
Kajian ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami Politik? kedua, bagaimana realitas pandangan masyarakat terhadap percaturan politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana seorang warga negara seharusnya berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?.
Terdapat banyak sekali pendekatan yang harus dilakukan sa’at ini. Minimal ada pendekatan yakni pendekatan institusionalisme (the old institutionalism) dimana negara sebagai fokus kajian utama. Setidaknya, ada dua jenis atau pemisahan institusi negara, yakni Negara demokratis yang berada pada titik "pemerintahan yang baik" atau good governance dan Negara otoriter yang berada pada titik "pemerintahan yang jelek" atau bad governance dan kemudian berkembang lagi dengan banyak varians yang memiliki sebutan nama yang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya—jika dikaji secara krusial, struktur pemerintahan dari jenis-jenis institusi negara tersebut tetap akan terbagi lagi menjadi dua yakni masalah antara "baik" dan "buruk" tadi.
Pendekatan perilaku (behavioralism) menekankan bahwa tidak ada gunanya membahas lembaga-lembaga formal karena pembahasan seperti itu tidak banyak memberikan informasi mengenai proses politik yang sebenarnya. Sementara itu, inti "pilihan rasional" ialah bahwa individu sebagai aktor terpenting dalam dunia politik dan sebagai makhluk yang rasional selalu mempunyai tujuan-tujuan yang mencerminkan apa yang dianggapnya kepentingan diri sendiri. Kedua pendekatan ini (perilaku dan pilihan rasional), memiliki fokus utama yang sama yakni individu atau manusia. Meskipun begitu, penekanan kedua pendekatan ini tetaplah berbeda satu sama lainnya.
Pendekatan pilihan rasional (rational choice) yang menekankan pada teori dan metodologi untuk menjelaskan berbagai fenomena dari keberagaman di dalam masyarakat. Menolak pendekatan normatif. Kaum behavioralis menolak hal-hal normatif yang dikaji dalam pendekatan institusionalisme karena pendekatan normatif dalam upaya menciptakan "pemerintahan yang baik" itu bersifat bias.
Menekankan pada analisis individual. Kaum behavioralis menganalisis letak atau pengaturan aktor politik secara individual karena fokus analisisnya memang tertuju pada analisis perilaku individu.
Masukan (inputism) yang memperhatikan masukan dalam sistem politik (teori sistem oleh David Easton, 1953) atau tidak hanya ditekankan pada strukturnya saja seperti dalam pendekatan institusionalisme.
Pendekatan kelembagaan baru atau the new institutionalism atau the new institutionalism lebih merupakan suatu visi yang meliputi beberapa pendekatan lain, bahkan beberapa bidang ilmu pengetahuan lain seperti ekonomi dan sosiologi. Berbeda dengan institusionalisme lama yang memandang institusi negara sebagai suatu hal yang statis dan terstruktur, pendekatan kelembagaan baru memandang negara sebagai hal yang dapat diperbaiki ke arah suatu tujuan tertentu. Kelembagaan baru sebenarnya dipicu oleh pendekatan behavioralis atau perilaku yang melihat politik dan kebijakan publik sebagai hasil dari perilaku kelompok besar atau massa, dan pemerintah sebagai institusi yang hanya mencerminkan kegiatan massa itu. Bentuk dan sifat dari institusi ditentukan oleh aktor beserta juga dengan segala pilihannya.
Ketiga pendekatan ini memiliki cara pandangnya tersendiri dalam mengkaji sekaligus mengkritik pendekatan yang lain. 

Aplikasi Kecerdasan Politik

Setelah mendalami perjalanan pergerakkan warga negara di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya seorang warga negara mengaplikasikan “kecerdasan politik” dalam kehidupan sehari-hari ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang –kelompok- yang lain.
Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik Eksekutif, Legislatif, masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantang mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan -kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika lembaga yang diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab problematika hidup mereka, tapi justeru sebaliknya para politisi yang menjadi “kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri dan keluarganya saja bahkan tidak kurang mereka hanya menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang bangsa ini.
Kedua, akibat dari kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai, maka rakyat ditinggalkan begitu saja. Kondisi inilah yang mejadi penyebab sebegitu tercorengnya pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya, apalagi di mata dunia  Internasional. Peristiwa kenaikan harga BBM disa’at harga dasar minyak dunia turun, masih menjamurnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dsb, hal tersebut merupakan realitas politik yang tidak bisa kita pungkiri.  Kondisi tersebut sungguh menambah kelamnya sejarah bangsa ini.
Ketiga, bagaimana seharusnya seorang warga negara berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan warga negara tersebut, realitas politik bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Masyarakat tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi,  sebab kekuatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan Organisasi Masyarakat. Partai Politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan Political Intrude (politik yang bermaksud mengganggu) dengan dalih “silaturrahmi politik”. Sekali lagi hal tersebut di atas merupakan jebakan politik saja.
Sikap politik masyarakat sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai ; bagaimana masyarakat sebagai warga negara merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “Terlaksananya masyarakat yang Baldatun toyyibatun wa robun gofuur”. Masyarakat tidak perlu bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi masyarakat harus mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader warga negara yang memiliki militansi (dalam pemahaman makro), tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan langkah politik yang -justeru- akan merusak harga diri rakyat; menjual kekuatan rakyat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik praktis.
Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung mendukung, tetapi masyarakat cerdas harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah, yaitu bertanggungjawab penuh untuk mewakili rakyat dalam percaturan politik praktis, tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter "Rakyat" dimanapun mereka beraktifitas, bukan justeru sebaliknya dia membawa karakter "luar" dan melakukan uji coba politik di dalam wilayahnya sendiri.

Khatimah
Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang orang Timur -Islam- lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi religius.

DAFTAR PUSTAKA

Fritjof  Capra, The Turning Point -Titik Balik Peradaban, Jejak , Yogyakarta, 2007
Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005
Michael T. Gibbons, Tafsir Politik, Tela’ah Hermeneutis Wacana Sosial Politik Kontemporer, Qalam, Yogyakarta, 1987

Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order”,Benturan Antar Peradaban, Qalam, Yogyakarta, 2002

17 Agustus 2014

Pidato singkat Soekarno, 17 Agustus 1945.


"Saudara-saudara sekalian...!
Saya telah minta saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.
Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya pada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri.
Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara...!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu.
Dengarkanlah Proklamasi kami: Proklamasi...
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno / Hatta.
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka.
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita menyusun Negara kita!
Negara Merdeka,
Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi.
Insya' Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu...

(Koesnodiprojo, 1951).
  

15 Juli 2014

Andalusia Dalam Lintasan Sejarah


Dahulu, Sejarah Islam di Andalusia pernah bertorehkan tinta emas. Puncak dari peradaban yang bernafaskan nilai-nilai keagamaan. Daratan Andalusia (Spanyol) menjadi saksi bagaimana selama kurang lebih delapan abad, Islam membangun sebentuk kehidupan masyarakat yang mengagumkan.

Daratan Andalusia
Bermula dari kedatangan Thariq bin Ziyad, seorang panglima perang Islam bersama 7.000 pasukannya pada Mei 711 Masehi. Panglima besar dari Kekhalifahan Umayyah di Damaskus tersebut memasuki Selat Gibraltar yang terletak di Teluk Algeciras, kemudian menaklukkan kota-kota penting saat itu. Yaitu Toledo, Elvira, Granada, Cordoba, Malaga, Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia, dan Galicia. Penyebaran Islam ke Eropa pun dimulai sejak waktu itu.
Selama delapan abad lamanya, jazirah Iberia (sebelum bernama Andalusia) menjadi simbol kegemilangan Islam di tanah Eropa. Andalusia dengan kota utamanya yaitu Cordoba, disebut sebagai pusat peradaban Islam saat itu setelah Kota Bagdad di Timur Tengah (Irak).
Kegemilangan peradaban dan kebudayaannya dapat dilihat dari kota-kota besar yang ada saat itu. Di kota-kota tersebut berkumpul ribuan para kaum cendikia (intelektual). Baik itu yang beragama muslim, yahudi hingga nasrani. Setiap komunitas memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan kebangkitan ilmiah (science), sastra, dan pembangunan fisik (arsitektur) di Andalusia. Semuanya tumbuh pesat seiring dengan syiar agama Islam.
Salah satu contoh tingginya peradaban Islam (khususnya seni arsitektur) bisa dilihat dari peninggalan bangunannya, yaitu keberadaan Istana Al Hambra. Istana yang hingga kini keindahannya selalu dapat membuai mata. Jejak sejarah kegemilangan Islam.
Andalusia sebelum kedatangan peradaban Islam termasuk wilayah yang rendah tingkat kebudayaannya. Di bawah kekuasaan kerajaan Visigoth, Andalusia bukanlah salah satu pusat peradaban Eropa saat itu. Namun semenjak kedatangan Islam, Andalusia berubah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia dan berkontribusi besar atas kemajuan peradaban di Eropa hingga saat ini.

Tokoh-Tokoh Intelektual Andalusia
Peperangan dalam Islam bukan untuk memusnahkan. Tapi sebaliknya, memberi kehidupan bagi setiap manusia yang bernaung di dalamnya. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai suatu wilayah, bukan penjajahan yang terjadi. Tapi, mendorong wilayah tersebut untuk mengoptimalkan segala potensinya. Membawa kehidupan surga di langit agar dinikmati oleh manusia di bumi.
Hal ini terbukti ketika nilai-nilai Islam menaburi daratan Andalusia, bermunculan banyak tokoh-tokoh intektual kelas dunia. Sebutlah, Ibnu Thufail (1107-1185), Ibnu Bajjah (1082-1138), Ibnu Zuhr/Avenzoar (1091-1162), Ibnu Rusyd/Averroes (1126-1198), Ibnu Arabi (1164-1240), dan lain-lain.
Dua nama terakhir, yaitu Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi termasuk cendikia yang ketenarannya hingga ke daratan Eropa. Mereka disebut sebagai "penyambung lidah" kebijaksanaan/filsafat Yunani yang sempat hilang ketika Eropa dilanda kegelapan intelektual pada abad pertengahan (medieval).
Sayangnya, segala kegemilangannya itu berakhir pada 1492 ketika Kota Granada ditaklukkan kembali (reconquista) oleh Ratu Isabella dan Raja Fernando dari kerajaan Castilla, Spanyol. Mengikis habis kekuasaan Islam sejak berabad lamanya di bumi Andalusia.
Namun, kekuasaan dan keindahan Andalusia tidak pernah berhenti bergema di seluruh telinga masyarakat dunia. Kedua hal tersebut akan selalu menjadi kenangan bagi sejarah Islam di Andalusia.

Filosofi Islam dalam Peninggalan Bersejarah
"Tidak ada pemenang selain Allah" begitulah tulisan yang sering ditemui jika kita mengunjungi bangunan bersejarah peninggalan Islam di Andalusia. Tulisan tersebut dapat dilihat dalam bentuk ukiran dinding pada bangunan bersejarah tersebut.
Terdapat 100 tulisan yang berbunyi seperti itu pada ukiran dindingnya. Selidik punya selidik, tulisan tersebut ternyata merupakan motto yang menjadi ciri khas Dinasti Nasrid yang pernah berkuasa di Andalusia pada tahun 1238.
Selain tulisan tersebut, ada juga tulisan lain yang terpampang di dinding bangunan bersejarah di Andalusia. Tulisan tersebut berbunyi "kebahagiaan abadi" sebagai bukti bahwa ada kebahagiaan yang menjadi harapan apabila hanya berpegang teguh kepada kemenangan Allah.
Tulisan dalam bentuk kaligrafi arab tersebut tersebar hampir di seluruh bangunan Islam yang ada di Andalusia. Selain itu, banyak pula sejarawan yang hendak meneliti serta mengkaji berbagai ukiran tersebut dengan harapan mampu membuat sebuah wacana dengan makna dan filosofi Islam yang dipercaya oleh masyarakat Islam Andalusia pada saat itu.
Tidak hanya itu, para budayawan dan sejarawan juga bahkan menggunakan berbagai alat teknologi canggih berupa kamera digital dan pemindai laser tiga dimensi untuk meneliti ukiran yang terdapat di dinding bangunan tanpa harus menyentuhnya atau melihatnya dari jarak dekat.
Namun, ada juga tempat kaligrafi yang agak sulit dijangkau, yakni pada pilar tiang penyangga di Istana Alhambra dengan huruf yang juga sulit dibaca. Penelitian tersebut diharapkan bisa berbentuk katalog yang merangkum berbagai tulisan kaligrafi yang terdapat di ukiran dinding bangunan bersejarah Islam di Andalusia.
Oleh karena itu, tidak heran jika bangunan berarsitektur Islam tersebut mampu menyedot berbagai wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Selain karena keindahan bangunan dan ukiran kaligrafinya, juga ada filosofi dan sejarah Islam di Andalusia yang bisa didapatkan oleh pengunjung.

Arsitektur Khas Andalusia
Salah satu peninggalan bersejarah yang membuktikan gaya arsitektur Andalusia adalah istana peninggalan budaya Islam, Madinah Al-Zahra, yang berada di dekat Cordoba.
Situs yang memiliki luas 115 hektar tersebut dianggap sebagai refleksi perkembangan teknik pembangunan yang pada zamannya dikenal sebagai arsitektur khas Andalusia.
Istana tersebut memiliki posisi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bagian kota lainnya. Hal tersebut membuktikan bahwa istana itu merupakan tempat penguasa Andalusia berkuasa.
Kekuasaan tersebut membuat semua orang yang berada di bawah pimpinannya harus melakukan perjalanan yang cukup jauh agar bisa bertemu dengan sang penguasa.
Di sana juga merupakan markas besar khalifah yang terletak di sbeuah gunung sehingga bisa dilihat dari jarak jauh dan pada abad ke-10 menjadi kota yang paling mahsyur dan hebat di dunia.
Istana megah khalifah tersebut terbuat dari bahan material yang berharga mahal sehingga kuat dan tahan lama, seperti marmer, mutiara, emas, dan gading. Kemegahan bahan dasar material tersebut juga membawa perubahan pada dunia desain dan seni.
Dengan melakukan berbagai revolusi besar-besaran, khalifah pada saat itu juga dianggap sebagai seorang penguasa yang mampu memberikan identitas budaya yang nyata sehingga eksistensinya diakui oleh seluruh dunia. Hingga saat ini, Madinah Al-Zahra dikenal sebagai tempat dengan gaya arsitektur klasik Andalusia pertama.
Ciri khas yang dimaksud adalah adanya bagian halaman di luar dan di dalam bangunan. Sementara itu, waktu yang diperlukan untuk membangunnya adalah selama 30 tahun dengan jumlah penduduk sekitar 200 ribu jiwa.
Para seniman didatangkan dari seluruh penjuru dunia untuk bisa membangun kota tersebut, dan pakar geometrinya pun didatangkan langsung dari Irak sehingga mampu menghasilkan bangunan khas yang hingga kini dikagumi banyak orang.
Sayangnya, kota yang sudah susah payah dibangun selama 30 tahun tersebut menjadi kota yang diabaikan setelah terjadinya perang sipil dan dinasti. Hingga saat ini, Madinah Al-Zahra dianggap sebagai simbol keagungan sekaligus takdir Allah swt.

Tidak heran, banyak orang yang datang ke tempat itu hanya untuk mengetahui perjalanan sejarah keislaman serta arsitektur khas Andalusia tersebut.

Bergerak untuk kemenangan ummat Islam

Bergerak untuk kemenangan ummat Islam
Prof. Yusril Ihza Mahendra

Lagi Serius pa Hajjiiiiiii................

Lagi Serius pa Hajjiiiiiii................
Pelantikan DIKLATSAR MAHAPEKA

MUSWIL PERSATUAN ISLAM

MUSWIL PERSATUAN ISLAM
Bersama H. Adung salah seorang tokoh masyarakat Kab. Bandung dalam Pembukaan Musyawarah Wilayah Persatuan Islam di Aula PUSDA'I

Posisikan diri

Posisikan diri
makna sebuah do'a

Ery Ridwan Latief & Keluarga

Ery Ridwan Latief & Keluarga
Dari kiri ke kanan : Byan Illabiqisti Latief, Ery Ridwan Latief, Yulia Widiasari Rahmah, Binar Miladifiqhan Latief, Brilian Rahmaning Putri Latiefah, Barami Maulidajindi Latiefah, Biyadika Raksanagari Latiefah

Kwartet

Kwartet
Bu Hj. Yulia bersama Hj. Atik Atisah (ibunda), Hj. Rini Oktriani, Hj. Lisepti Rahmalia (adik)